Masjid Raja Haji Abdul Ghani Karimun

Masjid Raja Haji Abdul Ghani adalah masjid tertua di Kabupaten Karimun yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rahman tahun 1883-1911.

Penulis: Widityas
Editor: Ami Heppy
Tribun Batam
Masjid Raja Haji Abdul Ghani Karimun 

TRIBUNBATAMWIKI.COM, KARIMUN - Masjid Raja Haji Abdul Ghani adalah salah satu masjid tertua di Kabupaten Karimun.

Masjid ini terletak di Pulau Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun.

Seperti beberapa masjid tua peninggalan Kerajaan Melayu lainnya, Masjid Raja Haji Abdul Ghani dibangun dengan balutan warna kuning cerah.

Nama Masjid Raja Haji Abdul Ghani mengadopsi nama raja yang membangunnya kala itu, yakni Raja Haji Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisabilillah.

Dibangun di tepi pantai, suasana masjid ini sangat asri di tengah perkampungan Melayu Pulau Buru.

Arsitektur

Masjid Raja Haji Abdul Ghani merupakan masjid tua yang masih mempertahankan arsitektur tradisional Melayu.

Bangunannya relatif sederhana dengan atap berbentuk limas.

Atap tersebut tersusun dalam tiga tingkatan.

Terdapat kubah kecil di bagian puncak atap.

Seperti masjid tua bersejarah lainnya, masjid ini dibalut dengan warna kuning cerah khas Melayu.

Beberapa sudut masjid juga dikombinasikan dengan warna hijau.

Menurut tetua di Kecamatan Buru, konon arsitekturnya dibangun oleh seorang Tionghoa.

Ini dikuatkan dengan berdirinya sebuah kelenteng yang letaknya tidak jauh dari Masjid Raja Haji Abdul Ghani tersebut.

Di samping Masjid Raja Haji Abdul Ghani juga berdiri sebuah menara yang juga berwarna kuning.

Menara ini berbentuk kerucut dan sekilas mirip dengan ruang pembakaran hio yang ada di kelenteng.

Tingginya mencapai 21 meter dengan diameter berukuran 4 meter.

Salah satu yang cukup unik dari bangunan masjid ini adalah adanya ventilasi yang terbuat dari batu giok.

Batu-batu yang membentuk ventilasi tersebut berwarna hijau tua dengan ornamen khas Tiongkok.

Masjid yang sedari awal didominasi warna kuning ini memiliki ukuran 8 meter x 15 meter.

Uniknya, Masjid Raja Haji Abdul Ghani dibangun dengan menggunakan kuning telur sebagai perekatnya.

Komposisi bahan ini diduga membuat bangunan masjid tetap kokoh hingga kini, meski telah mengalami renovasi.

Terdapat sebuah pintu masuk utama berupa gerbang dengan bentuk melengkung di bagian depan masjid.

Tinggi gerbang ini kira-kira 2,3 meter dengan lebar 1,3 meter.

Sejarah

Seorang amir pertama di daerah ini pernah mencatat, Masjid Raja Haji Abdul Ghani dibangun pada pertengahan abad ke-19, atau pada masa kerajaan Riau-Lingga.

Masjid Raja Haji Abdul Ghani dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Rahman sekitar tahun 1883-1911. 

Selain dijaga keasliannya, di dekat lokasi masjid ini juga masih menyimpan peninggalan zaman dahulu seperti meriam tua dan lonceng yang berasal dari Spanyol.

Masjid Raja Haji Abdul Ghani ini mampu menampung jamaah sekitar seratus orang dan masih dimanfaatkan warga sekitar untuk kegiatan keagamaan pada umumnya.

Air Tempat Wudhu Tak Pernah Kering

Keberadaan sumur untuk mengambil air wudhu yang berada didepan masjid hingga kini masih berfungsi dan tetap dipertahankan bentuknya.

Konon, air untuk berwudhu di sini tidak pernah habis, bahkan meski masyarakat sekitar mengambilnya setiap hari.

Ketika musim kemarau panjang pun air sumur itu tidak habis. 

Saat peringatan hari-hari Islam, masjid ini ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Selain bertujuan ziarah ke masjid, wisatawan juga biasanya ke tempat-tempat wisata lain yang ada di Pulau Buru ini seperti makam Badang, Perigi Batu dan pemandian air panas di Tanjungutan.

RS Darurat Covid-19 Pulau Galang Resmi Beroperasi Mulai 6 April 2020

(TRIBUNBATAMWIKI.COM/Widi Wahyuning Tyas)

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved