Pulau Penyengat

Pulau Penyengat adalah salah satu pulau di Kepulauan Riau yang memiliki banyak peninggalan sejarah.

Penulis: Widityas
Editor: Ami Heppy
National Geographic Grid.id
Pulau Penyengat 

TRIBUNBATAMWIKI - Provinsi Kepulauan Riau memiliki banyak pulau besar dan kecil yang tersebar di seluruh penjuru wilayahnya.

Salah satu pulau yang banyak menarik orang untuk mengunjungi dan juga punya nilai sejarah adalah Pulau Penyengat.

Pulau yang termasuk dalam wilayah administratif Kota Tanjung Pinang ini tak terlalu besar.

Luasnya hanya sekitar 2 kilometer persegi.

Dengan jarak kurang lebih 2 kilometer dari pusat Kota Tanjung Pinang, Pulau Penyengat bisa dijangkau dengan kapal pompong dari dermaga Tanjung Pinang dengan durasi sekitar 15 menit.

Sedang jaraknya dari Kota Batam sekitar 35 kilometer.

Meski tak terlalu luas, Pulau Penyengat cukup padat.

Pulau Penyengat merupakan salah satu destinasi wisata favorit para pelancong, terutama mereka yang ingin mengintip sejarah dan budaya masyarakat Melayu Kepulauan Riau.

Hal ini lantaran di Pulau Penyengat terdapat banyak peninggalan bersejarah seperti Masjid Raya Sultan Riau, makam-makam para raja, makam pahlawan nasional Raja Ali Haji, Kompleks Istana Kantor, hingga benteng pertahanan di Bukit Kursi.

Tempat lahir tata Bahasa Melayu

Pulau Penyengat merupakan tempat diciptakannya tata Bahasa Melayu.

Di sini, Gurindam sebagai cikal bakal Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia lahir.

Gurindam adalah suatu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri atas dua baris kalimat dengan irama akhir sama dan merupakan satu kesatuan utuh.

Tiap baris kalimat dalam gurindam merupakan sebuah kalimat majemuk yang merupakan induk dan anak kalimat.

Terdapat dua atau beberapa baris dalam satu baitnya.

Dalam gurindam, setiap baris memiliki isi atau maksud dan bersambung dengan baris rangkap selanjutnya, sehingga membentuk satu makna yang lengkap.

Baris pertama berisi syarat dan baris kedua berisi jawaban dari "syarat" baris pertama.

Penciptanya adalah Raja Ali Haji, seorang tokoh Bahasa Melayu dari Pulau Penyengat di Kepulauan Riau.

Salah satu karyanya yang paling tersohor adalah Gurindam 12.

Selain itu, ia juga menulis kitab Pedoman Bahasa Melayu, yang pada akhirnya dijadikan landasan menetapkan Bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda 1928.

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved