Pulau Galang

Pemerintah Indonesia berencana menyediakan rumah sakit khusus penanganan penyakit menular di pulau Galang, Batam. Berikut sejarah dan geografisnya

Penulis: Widityas
Editor: Ami Heppy
Tribun Batam
Pulau Galang Batam 

Saat membuat kapal, datang seorang penduduk setempat yang bernama Canang .

Namun, para pembuat kapal tersebut mengusir Canang agar jangan mengganggu.

Canang lantas bersumpah jika lancang tersebut tidak akan turun ke laut, namun pasukan Raja Malaka tidak peduli.

Ternyata lancang tersebut benar-benar tidak bisa turun ke laut.

Agar dapat turun ke laut, perlu landasan tujuh orang wanita yang sedang hamil anak pertama.

Tujuh orang wanita yang sedang hamil anak pertama itulah kemudian yang menjadi landasan turunnya lancang ke laut.

Maka, pulau itu disebut dengan Galangan. 

Galangan dalam arti landasan yaitu manusia dijadikan galang.

Dalam perkembangannya penyebutan pulau itu menjadi Pulau Galang saja.

Perjalanan Pulau Galang

Setelah Indonesia merdeka ternyata Pulau Galang masuk ke wilayah geografis Tanjung Pinang.

Baru pada tahun 1992 dengan dikeluarkannya Kepres No 28 Tahun 1992 wilayah kerja Otorita Batam diperluas meliputi wilayah Pulau Batam, Rempang, Galang dan pulau-pulau sekitarnya (Barelang) dengan luas wilayah seluruhnya sekitar 715 kilometer (115 persen dari luas Singapura ).

Pulau Galang saat itu dihuni oleh 185 jiwa (44 kepala keluarga).

Fasilitas yang terdapat di pulau ini berupa jalan raya sepanjang 6 kilometer, air minum dengan kapasitas 5 liter/detik, pembangkit listrik berkekuatan 500 KVA, dua sekolah dasara (SD), puskesmas, satu gereja, dan satu buah candi.

Serta beberapa buah kuil peninggalan para pengungsi Vietnam yang pernah ditampung di pulau ini selama 17 tahun, tepatnya 1979-1996.

Pulau Rempang sendiri sebenarnya merupakan salah satu Pulau di wilayah Kecamatan Galang, yang sebenarnya berada di bawah wilayah Kabupaten Kepulauan Riau.

Luas pulau ini sekitar 168 kilometer persegi.

Jumlah penduduk yang bermukim di pulau ini sebelumnya sekitar 2.740 jiwa atau 616 kepala keluarga (KK).

Sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Fasilitas yang ada di Pulau Rempang diantaranya jalan sepanjang 9,5 kilometer, pembangkit listrik dengan kapasitas 10 KVA, puskesmas, 8 buah masjid dan satu gereja.

Sebelum Pulau Rempang dan Pulau Galang masuk ke dalam Otorita Batam, Pemerintah Daerah Riau memang sempat agak keberatan.

Sebab, bila kedua pulau ini dimasukkan menjadi wilayah kerja Otorita Batam, dikhawatirkan kegiatan penyelundupan semakin meningkat dan sulit dicegah, karena semakin banyaknya pintu keluar atau masuk ke wilayah kawasan berikat dan terbatasnya sarana untuk melakukan pengawasan.

Selain itu Pemerintah Daerah Riau juga khawatir, pemisahan kedua daerah tersebut dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau kemudian masuk menjadi wilayah Otorita Batam, berarti sudah dua kali wilayah Kabupaten Kepulauan Riau kehilangan sebagian wilayah kerjanya.

Diantaranya pada tahun 1983 dengan dibentuknya Kodya Batam, yang wilayahnya meliputi Pulau Batam dan pulau-pulau sekitarnya.

Kedua, dengan dimasukkannya Pulau Rempang dan Pulau Galang sebagai perluasan wilayah kerja daerah industri Pulau Batam. 

Karena itu, Pemerintah Daerah Riau di Pekanbaru berpendapat, alangkah baiknya apabila pengembangan Pulau Galang dan Pulau Rempang diintegrasikan dengan pengembangan Pulau Bintan dalam kaitannya dengan pengembangan Segitiga pertumbuhan SIJORI (Singapura, Johor, Riau).

Dengan demikian, keutuhan wilayah Kabupaten Kepulauan Riau tetap dapat menyelenggarakan urusan otonomi daerahnya dengan lebih baik, menuju otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab.

Namun demikian, Pemda Riau akhirnya menyadari tujuan kebijaksanaan Pemerintah mengintegrasikan Pulau Rempang dan Pulau Galang ke dalam wilayah kerja Otorita Batam sangat beralasan untuk masa depan pengembanan wilayah itu.

Kondisi Geografis

Sebagaimana pulau pada umumnya, Pulau Galang dikelilingi oleh samudera luas. 

Sehingga, tak heran jika di pulau ini banyak terdapat objek wisata berupa pantai dengan pasir putih yang eksotis, seperti pantai Vio vio.

Pulau ini tidak begitu padat penduduk.

Data terakhir tahun 2019, kepadatan penduduk di pulau ini adalah 36 orang per kilometer persegi.

Kebanyakan tanah di pulau ini berupa tanah merah.

Namun, masih banyak pepohonan dan tanaman yang bisa tumbuh di pulau ini.

Wisata Batu Lepe di Kepulauan Anambas

Sejarah Jembatan Nato Batam

(Tribunbatamwiki.com/Widityas)

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved