Museum Raja Ali Haji

Museum Raja Ali Haji adalah museum baru di Kota Batam yang mengusung konsep linimasa.

Penulis: Widityas
Editor: Ami Heppy
Tribun Batam
Museum Raja Ali Haji Batam 

TRIBUNBATAMWIKI.COM, BATAM - Museum Raja Ali Haji adalah museum baru di Kota Batam.

Gedung museum yang terletak di Dataran Engku Putri Batam ini dulunya adalah gedung MTQ Nasional yang sudah dialihfungsikan.

Mengusung konsep linimasa, Museum Raja Ali Haji saat ini masih dalam tahap revitalisasi.

Proses revitalisasi sudah berlangsung sejak akhir tahun 2019 lalu dengan menggunakan anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Total keseluruhan anggaran yang digunakan adalah Rp 500 juta dan diutamakan terlebih dahulu untuk perbaikan bangunan, tata pamer dan ornamen-ornamen.

Revitalisasi ini termasuk melakukan perbaikan replika Cogan setinggi 3 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter.

Hal ini dikarenakan Replika Cogan tersebut ditemukan tumbang karena besi yang telah keropos.

Cogan adalah salah satu alat kebesaran atau regalia yang dimiliki Kerajaan Johor Riau Lingga Pahang.

Alat ini berfungsi sebagai simbol, emblem, lambang dan tombak kebesaran kerajaan pada masanya.

Bentuknya menyerupai daun dengan pahatan hiasan bermotif rangkaian bunga-bunga pada bagian tepinya.

Pada bagian utama yang menyerupai daun terdapat pahatan tulisan.

Secara garis besar, bentuk fisik cogan membentuk sebuah tombak. 

Dengan konsep linimasa, perjalanan sejarah Batam sejak masa Kerajaan Riau Lingga hingga saat ini akan tergambarkan dengan rinci.

Potongan cerita sejarah Batam ini bakal dituangkan dalam bentuk dua dimensi.

Berbagai foto dari tiap masa kejayaan ditempel di dinding museum secara berurutan.

Sehingga pengunjung bisa menyaksikan bagaimana kota Batam berdiri dari awal masa kerajaan hingga maju seperti sekarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiniwinata mengatakan jika gambaran yang disajikan di museum ini mulai dari sejarah Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan Indonesia, Otorita Batam, hingga perjalanan kota Batam saat masih menjadi kota administratif.

Selain itu, Khasanah Melayu yang sangat kulituristik juga bisa dijumpai di  museum ini.

Pengunjung juga bisa melihat perjalanan pembangunan kota Batam dengan berbagai infrastruktur yang dibangun dari waktu ke waktu.

Museum ini juga dilengkapi berbagai benda yang terkait dengan kebudayaan masyarakat melayu di Batam.

Beberapa diantaranya seperti peralatan tradisional, upacara adat, pakaian adat, peninggalan sejarah, hingga keramik-keramik kuno.

Selain untuk menarik wisatawan, pembangunan museum ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi seputar sejarah peradaban di kota Batam.

Nama Raja Ali Haji

Museum ini diberi nama Museum Raja Ali Haji yang merupakan pahlawan nasional asal Kepulauan Riau.

Raja Ali Haji lahir di Selangor, Malaysia pada tahun 1808 dan meninggal di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada 1873.

Ia adalah ulama, sejarawan, dan pujangga keturunan Bugis dan Melayu.

Raja Ali Haji terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa.

Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia.

Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.

Salah satu mahakaryanya yang paling fenomenal adalah Gurindam 12.

Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November 2004.

Kota Batam

Kabupaten Bintan

(Tribunbatamwiki.com/Widityas)

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved