Kabupaten Natuna

Natuna kini tak lagi asing. Apalagi saat adanya kegiatan observasi WNA dari Wuhan akibat adanya wabah virus corona yang melanda Tiongkok

Penulis: Widityas
Editor: Ami Heppy
Kompas.com
Kepulauan Natuna di Provinsi Kepulauan Riau(Dok. KOMPAS TV) 

TRIBUNBATAMWIKI - Pulau Natuna dijadikan lokasi observasi terhadap warga negara Indonesia (WNi) yang dipulangkan dari Wuhan, China terkait adanya wabah virus corona.

Pulau terluar di Indonesia ini terletak di ujung utara selat Karimata.

Natuna berada pada jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Kabupaten yang termasuk provinsi Kepulauan Riau ini terkenal dengan penghasil minyak dan gas.

Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 1. 400.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680.000 barel.

Di Natuna terdapat hewan yang hanya hidup di wilayah tersebut, yakni hewan kekah.

Batas wilayah

- Utara : berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja

- Selatan : berbatasan dengan Sumatra Selatan dan Jambi

- Barat : berbatasan dengan Singapura, Malaysia, Riau

- Timur : berbatasan dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat

Bupati

Drs H Abdul Hamid Rizal MSi (2016-sekarang)

SEJARAH

Melansir berbagai sumber, sejarah Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kabupaten Kepulauan Riau.

Hal ini lantaran sebelum berdiri sendiri sebagai daerah otonomi, Kabupaten Natuna merupakan bagian dari wilayah Kepulauan Riau.

Kabupaten Natuna dibentuk berdasarkan Undang-Undang No 53 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 12 Oktober 1999, dengan dilantiknya Bupati Natuna Drs H Andi Rivai Siregar oleh Menteri Dalam Negeri ad interm Jenderal TNI Faisal Tanjung di Jakarta.

Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau yang terdiri atas enam Kecamatan, yaitu Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai dan Serasan dan satu Kecamatan Pembantu Tebang Ladan.

Seiring dengan kewenangan otonomi daerah, Kabupaten Natuna kemudian melakukan pemekaran daerah kecamatan yang hingga tahun 2004 menjadi 10 kecamatan dengan penambahan, Kecamatan Pal Matak, Subi, Bunguran Utara dan Pulau Laut dengan jumlah kelurahan/desa sebanyak 53.

Hingga tahun 2007, Kabupaten Natuna telah memiliki 16 Kecamatan.

Enam kecamatan pemekaran baru itu diantaranya adalah Kecamatan Pulau Tiga, Bunguran Timur Laut, Bunguran Tengah, Siantan Selatan, Siantan Timur dan Jemaja Timur dengan total jumlah kelurahan/desa sebanyak 75.

Pada 2008, Kabupaten Natuna melakukan pemekaran dengan dibentuk Kabupaten Kepulauan Anambas, sehingga kecamatan menjadi 12 Kecamatan.

Lalu hingga tahun 2015 menjadi 70 Desa dan 6 Kelurahan.

Dan akan ada 3 Kecamatan pemekaran sehinggan menjadi 16 Kecamatan.

Geografis

Berdasarkan kondisi fisiknya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu.

Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai.

Ketinggian wilayah antara kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 hingga 959 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 2 sampai 5 meter.

Pada umumnya, struktur tanah terdiri atas tanah podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bahan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus.

Iklim dan cuaca

Iklim di Kabupaten Natuna adalah tropis basah dengan suhu rata-rata 26 derajat celcius dan sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin.

Kelembaban udaranya berkisar antara 60 persen dan 85 persen.

Sedangkan, curah hujannya rata-rata 2.530 milimeter dengan jumlah hari hujan 110 per tahun.

Bulan-bulan yang basah terjadi pada bulan Oktober-Desember dengan kecepatan angin rata-rata 276 kilometer per hari.

Sedangkan, penyinaran mataharinya rata-rata 53 persen.

Cuacanya sering tidak menentu.

Hujan disertai angin kencang, badai yang bergemuruh, dan gelombang yang mencapai ketinggian lebih dari tiga meter acapkali terjadi secara tiba-tiba.

Berdasarkan arah angin, masyarakat setempat mengenal adanya 4 musim, yakni: 

1. Musim Utara ditandai oleh angin yang berhembus dari arah timur.

Musim ini berjalan selama 4 bulan (November—Februari).

Pada musim ini angin berhembus sangat kencang (kecepatannya mencapai 15–30 knots), sehingga laut bergelombang sepanjang siang dan malam dengan ketinggian 1-3 meter.

2. Musim Timur ditandai oleh angin yang berhembus dari arah timur.

Musim ini juga berjalan selama 4 bulan (Maret—Juni). Kecepatan anginnya rata-rata hanya 12 knots.

Hujan yang lebat jarang terjadi.

Adakalanya hujan disertai dengan panas.

Panas yang demikian, oleh masyarakat setempat disebut sebagai ngek-ngek atau lak-lak (rasanya tidak menentu).

3. Musim Selatan ditandai oleh angin yang berhembus dari arah selatan.

Musim yang berlangsung selama 2 bulan (Juli—Agustus) ini kecepatan anginnya rata-rata 8-20 knots.

Pada musim ini matahari dapat bersinar bebas sehingga panasnya sangat menyengat.

Keadaan laut masih tetap bergelombang, bahkan adakalanya dapat mencapai lebih dari 3 meter.

4. Musim Barat yang ditandai oleh angin yang berhembus dari arah barat juga berlangsung selama 2 bulan (September—Oktober).

Ciri dari musim ini adalah antara panas dan hujan saling berganti.

Oleh karena itu, permukaan laut adakalanya bagaikan “air dalam talam” (tenang dan teduh), tetapi adakalanya menakutkan karena gelombangnya dapat mencapai 3 meter lebih.

Kota Batam

Kabupaten Bintan

(Tribunbatamwiki.com/Widityas)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved