Anak Bunuh Ayah Kandung di Tegal, Sang Ibu: Kakaknya Pernah Ditusuk Pisau, Saya Juga Sering Diganggu

Seorang anak tega membunuh ayah kandungnya sendiri. Rupanya pelaku sering meneror keluarga sejak 7 tahun lalu sebelum pembunuhan terjadi.

Tribun Jateng/Gumilang
Polisi menginterogasi pelaku pembunuhan ayah kandung dalam ruang tahanan Mapolsek Warureja, Rabu (30/10/2019) tengah malam. 

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Peristiwa pembunuhan kembali terjadi.

Kali ini pelaku adalah Wahudin atau kerap disapa Udin (28), membunuh ayah kandungnya sendiri Rahadi (58).

Pembunuhan tersebut terjadi pada Selasa (19/20/2019).

Kejadian tragis terjadi di Desa Kendayakan, Warureja, Tegal, Jawa Tengah.

Udin menghabisi nyawa sang Ayah menggunakan kampak dan membuang jasadnya ke septic tank atau tangi septik.

Jasad sang ayah dibungkus dengan karpet lalu dicor menggunakan semen sebelum dimasukkan dalam tangki septik berdiameter sekitar 1 meter.

Baca: Terungkap Detail Transkrip Rekaman Mengerikan Pembunuhan Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi

Baca: G30S 1965 - Kisah Pembunuhan terhadap Tokoh PKI & Benih Rekonsiliasi di Palu, Sulawesi Tengah

Dilansir Tribun Jateng, dalih sang pelaku awalnya mengaku kesal karena sang Ayah berselingkuh dengan tetangganya yang bernama Nana.

Namun tuduhan tersebut dibantah oleh Kades Kendayakan, Rasiun.

Rasiun mengatakan bahwa alasan yang diungkapkan Udin hanya prasangka tanpa bukti.

Dikatakan oleh Rasiun, warga desanya menginginkan Udin meninggalkan desa Kendayakan.

Hal tersebut dikarenakan Udin sering meresahkan keluarganya sendiri hingga membuat warga mulai ketakutan.

Rasiun juga mengatakan Udin memiliki kecenderungan ingin melindungi keluarganya atau orang-orang terdekat dari orang lain yang melukai.

Udin bahkan tak segan melukai atau menyerang orang-orang yang berani mengganggu keluarga dan orang dekatnya.

Pernah lakukan pembacokan kepada keluarganya sendiri

Sebelum pembunuhan kepada sang Ayah, Udin juga pernah menyerang sang ayah pada 2017 lalu.

Beruntung sang Ayah berhasil selamat dari luka bacok di punggung.

Udin juga pernah membacok kakak kandungnya pada 2016 lalu.

Hingga pada Selasa (29/10/2019) siang sekitar pukul 12.00 WIB, Sariah menemukan banyak bercak darah beserta serbuk kopi bertebaran di dalam rumah.

Sariah (50) istri korban yang juga ibu Udin mengatakan kepada Tribun Jateng mengenai perilaku sang anak.

"Saya bingung. Ada apa ini. Saya sempat tanya ke anak saya (Udin), 'dimana bapak?'

Anak saya banyak berbohongnya. Ditanya, jawabnya malah bapak kerja. Padahal, sendalnya ada di rumah.

Saya saat itu curiga. Ternyata benar, saat disidik-sidik, bapak ada di dalam septic tank," ungkap Sariah.

Selain itu Saruiah juga mengungkapkan jika sang anak memang sering berbohong pada dirinya dan keluarga.

Udin rupanya telah meneror keluarganya sendiri sejak pulang melabuh dari pelayaran di Taiwan 7 tahun lalu.

"Dia (Udin) itu tukang ngarang. Keluarga di sini sudah sering diteror oleh tingkahnya. Kakaknya pernah ditusuk pisau. Saya juga sering diganggu," ucap ibu Udin kepada Tribunjateng.com, Rabu (30/10/2019).

Karena itu Sariah menginginkan agar Udin dihukum penjara selamanya.

Sariah tidak mau kejadian pembunuhan yang dilakukan oleh sang Anak akan kembali terjadi dan membahayakan keluarga serta orang-orang terdekat.

"Kalau diajak ngobrol, nyambung. Dia sering sendiri di dalam kamar rumah. Tapi, tiba-tiba suka berbuat teror. Kami sekeluarga yang sering kena teror," ujarnya Suriah.

Sariah juga terkejut mengetahui bahwa Udin membunuh sang Ayah menggunakan kampak.

Hal tersebut karena sebelumnya tidak pernah ada kampak di rumahnya.

Suriah menduga Udin baru saja membelinya dari uang yang diminta darinya sebelum kejadian pembunuhan itu terjadi.

"Sebelum hari kejadian, Udin sempat minta uang untuk beli oli motor. Tapi sepertinya dia berbohong.

Saya yakin uang itu dipakai untuk membeli kampak. Itu kampak baru soalnya. Intinya, saya tak mau ada Udin lagi di sini," tegas Suriah sembari menyapu air mata.

Gunakan bubuk kopi untuk meninggalkan jejak

Polisi memperlihatkan sebuah kampak yang dipakai tersangka Wahudin membacok korban, Selasa (29/10/2019) sore.
Polisi memperlihatkan sebuah kampak yang dipakai tersangka Wahudin membacok korban, Selasa (29/10/2019) sore. (Tribun Jateng/Gumilang)

Udin sempat melakukan beragam cara untuk menghapus jejak diantaranya menggunakan bubuk kopi diduga untuk menghilangkan bau amis dari darah.

Informasi tersebut dikatakan oleh Kasatreskrim Polres Tegal, AKP Gunawan Wibisono. 

Fakta tersebut didapat dari olah TKP di rumah korban pada Selasa (19/20/2019) malam.

Sebelum menabur kopi, Udin terlebih dulu membungkus korban dengan digulung tikar atau karpet.

Menurut Kasatreskrim, Udin berupaya membersihkan cipratan darah yang meluas di sekililing rumah, baik di lantai maupun dinding.

Namun karena cipratan darah yang terlalu banyak, pelaku akhirnya langsung membuangnya jasad sang Ayah ke septic tank di luar rumah.

"Jasad bapaknya yang terbungkus karpet itu disemen atau dicor di dalam septic tank yang berdiameter sekitar 1 meter.

Selesai mengecor, dia menaburkan banyak kopi di dalam rumah untuk menghilangkan aroma bau darah.

Saat kami ke TKP, masih banyak bercak darah di dinding-dinding rumah," jelas Gunawan pada Rabu (30/10/2019) kepada Tribun Jateng.

Gunawan menjelaskan Udin disangkakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Meski dianggap mengalami gangguan jiwa, pelaku bertindak normal layaknya orang biasa yang menaruh dendam pada seseorang.

"Dari tindakannya, semuanya terukur layaknya orang normal biasa.

Bahkan, pelaku sempat hendak menghapus jejaknya dengan mencuci kampak yang dipakainya untuk membunuh si korban.

Selain itu, ada upaya juga untuk menyembunyikan jasad korban meski akhirnya menyerahkan diri," ujar Gunawan.

Pengakuan Udin

Baca: FAKTA-fakta Siswa SMP di Kupang Bunuh Diri karena Tak Bisa Bunuh Ayahnya: Tulis Wasiat buat Ayah

Baca: Kisah Chambali, Algojo yang Membunuh Orang PKI Usai G30S, Tangan Gemetar hingga Mual-Mual

Polisi menginterogasi pelaku pembunuhan ayah kandung dalam ruang tahanan Mapolsek Warureja, Rabu (30/10/2019) tengah malam.
Polisi menginterogasi pelaku pembunuhan ayah kandung dalam ruang tahanan Mapolsek Warureja, Rabu (30/10/2019) tengah malam. (Tribun Jateng/Gumilang)

Saat berada di dalam jeruji sel Mapolsek Warureja, Udin mengaku tak menyesal seusai menghabisi nyawa ayahnya sendiri.

Udin sudah bulat berniat untuk melukai dan membunuh sang Ayah saat berada di rumah.

"Niatnya mau melukai dan membunuh. Bapak ku pacaran lagi soalnya," ujar Udin dengan dialek Tegal.

Udin merasa kesal karena sang Ayah diduga berpacaran lagi dengan tetangga sebelah.

"Sudah banyak buktinya. Selingkuhannya pernah dikasih motor oleh bapak saya. Namanya Nana," sebut Udin.

Namun tuduhan tersebut dibantah oleh Kades Kendayakan, Rasiun.

Rasiun mengatakan bahwa alasan yang diungkapkan Udin hanya prasangka tanpa bukti.

"Bukan mas. Tidak ada selingkuh-selingkuhan. Itu hanya prasangka-prasangka yang muncul di pikiran pelaku," tegas Rasiun kepada Tribun Jateng.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi, TRIBUN JATENG, Gumilang)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved